nO Menye

Kiciks BULUK
Kiciks REMUK
Kiciks KUMAL
Kiciks KUSAM
BRDEBUUUU DEBU BERDEBU DEBU elaap elaap elaaap

euh, lama tak menyampah disini, lama tak berkunjung ke kiciks, bukan maksud saya untuk melupakan blog buluk ini, tapi apa daya, banyak tuntutan yang harus saya jalani,entah itu tanggung jawab sebagai mahasiswa, sebagai anak, sebagai adik, sebagai kakak dan sebagai sebagai lainnya. blablablabla. sudah. cukup.

sibuklah dalam urusan kebaikan, karena diam, hening, dan menyendiri itu hanya akan membuka pintu setan (Kiciks.co)

“Ada dua kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan waktu kosong” (HR. Bukhari)

Hmmm mungkin saya akan mulai berserius-ria sambil komat kamit. Akhir-akhir ini saya emang (agak) sibuk *soksibuklodew* Ada beberapa amanah dan tanggung jawab yang harus sesegera mungkin saya kerjakan dan harus saya akhiri dengan baik, benar, dan no menye. Sekali lagi saya tegaskan NO MENYE. Hal itu berdampak pada kesetiaan saya dalam menulis di blog ini, dengan terpaksa saya harus skip untuk mengunjungi Kiciks. Rindu. Saya rindu menulis, bercerita dan menyempah di Kiciks.HngngngHmmmmm Benar, saya mempunyai hobi yang agak (sedikit) aneh. Hobi melampiaskan pahit dan manisnya hidup di Kiciks. Menjadikan Kiciks diary buluk saya. Saya bahagia. Saya lega. Saya banngga. karena bisa terbang bebas bersama Kiciks. Tak peduli tentag celotehan atau cecokan orang lain tentang saya.

Well, cukup bertele tele dan bermenye menye. Sekarang saya ingin masuk ke “main point” yang akan saya ceritakan kali ini. Ini cerita tentang adik kembar saya. Alim Azim. Liburan semester kemarin saya pulang kampung, bertemu dengan mereka dan kembali mengganggu mereka (lagi). Saya memang kakak ntah macam apa. (baca juga: kakak macam apa aku ini (?)) Baik?? entahlah, Menyebalkan??? mungkin, Bawel??? bisa jadi bisa jadi atau Melankolis Sanguinis???? IYA IYA IYA.
Mengganggu mereka adalah salah satu hal yang membuat saya merasa hidup di dunia ini. Jarak 15 tahun diantara saya dan adik kembar tidak membuat saya ciut untuk menggangu mereka. Sepertinya saya memang memiliki jiwa muda yang tinggi, kepercayaan diri tingkat akut yang tidak pernah merasa tua *gelenggeleng*
Layak halnya merkurius yang mengelilingi matahari, maka saya akan mengelilingi alim azim dengan gravitasi yang cukup tinggi.

Sore itu, adik saya sibuk memainkan pancingannya di samping rumah. Memakai baju kaos yang kumal (baju khusus main) dengan (tidak) lupa memakai sandal, mereka dengan PDnya menyangkutkan cacing di ujung kail pancingan. Adik saya memang wong deso. Ibu saya memang mengajarkan adik saya untuk selalu hidup bermasyarakat dengan lingkungan sekitar. Dikarenakan saya tinggal di kampung, mau tak mau, adik saya harus bermetamorfosis menjadi anak kampung sejati.

Bermain kelereng, mengais ngais pasir, bermain petak umpet, bermain sepeda, memancing, menangkap burung pipit hingga bermain ke sawah (?) mereka lakoni sebagai ritual wajib bermain dengan teman-teman sepermainan. Ibu saya tidak marah. Namun, Ibu tetap memberikan pengawasan yang tepat kepada dua adik kembar saya ini.

Saya heran. Alim Azim yang masih berumur 4 tahun mampu merekrut anggota sepermainan yang berumur sedikit lebih tua dari mereka. Ada yang sudah berumur 5 tahun, ada yang TK dan SD, yang masih baby juga ada. Saya sering memerhatikan adik saya jikalau sedang bermain. Hasil survei yang saya dapati, para teman sepermainan adik saya sangat patuh dan segan kepada adik saya. Ntahlah, mungkin jiwa kepemimpinan adik saya emang sudah terpupuk sejak dini.

Hal yang menarik dari segerombolan anak-anak yang lagi main pancingan ini adalah “kekreatifan” mereka. Mereka membuat pancingan sendiri, memancing sendiri di kolam samping rumah saya (jikalau mama saya tahu kalau ikannya habis di pancing adik saya, maka mama akan ngomel2 (tanda sayang) *ah saya rindu omelan Ibu*). Mereka kreatif untuk memancing dengan menggunakan umpan cacing (tanpa bertanya tanya dan meminta bantuan kepada orang yang lebih gede). Menarik ikan yang terperangkap bersama-sama dan dengan seruan yang menggelgarkan dunia. Mereka mengajarkan kerja sama dan kekompakkan kepada saya. Anak kecil saja bisa kompak, kenapa kita yang sudah beranjak dewasa (tidak) bisa kompak ?

Benar, mereka solid dan bersahabat. Ikan hasil pancingan di goreng dan dimakan bersama-sama. *Saya ikut berkontribusi dalam hal goreng menggoreng ikan hasil tangkapan itu*
Saya bahagia melihat mereka. Walau saya senang mengganggu adik kembar saya, namun percayalah!!!! saya begitu menyayangi mereka. Mereka salah satu faktor yang menglengkapi warna di oase kehidupan saya.

Alim Azim banyak mengajarkan pelajaran hidup kepada saya. Walaupun masih kecil, adik saya telah mampu membuat mainan sendiri, membuat lem dari botol bekas a*ua (sensor) dan membuat mobil-mobilan dari sandal dan kaleng, bahkan membuat meriam mainan adik saya juga jago hehe. Saya akui bahwa mereka kreatif. Kreatif sampai mati. Kreatif tanpa di nanti-nanti.

Saya sedih melihat anak-anak yang seumuran dengan adik saya dewasa ini. Mereka dimanjakan dengan main-mainan serba canggih dan mahal. Mereka diberi fasilitas permainan yang lengkap oleh orang tua sehingga kreativitas mereka pun terhambat. Jika ditanya, maka saya akan menjawab dengan mantap bahwa saya akan lebih mendukung dan menyukai anak kampung daripada anak kota. Anak-anak di kampung saya bermain secara bersama-sama dengan teman sebayanya. Mereka diberi kebebasan dan kepercayaan oleh orang tua untuk bermain dan menciptakan permainan sendiri. Dengan begitu mereka dapat menjalin hubungan interpersonal dengan teman sebayanya, belajar untuk saling bekerja sama. Berbeda dengan anak kota, yang notabenenya jarang keluar rumah. Mereka di didik oleh orang tuanya untuk terkungkung di rumah dan bermain dengan segubrak permainan yang keren dan canggih. Play station ? (that’s enemy for the children cuy). Hal ini dapat menciutkan inovasi dari anak tersebut. Membuat malas, menciutkan kekreativitas dari sang anak. Memang lingkungan kota sangat rentan, namun sebaiknya orang tua dapat memberikan kebebasan dan kepercayaan kepada anak-anaknya untuk bermain dengan teman sebaya dengan pengwasan yang ketat. Jangan memanjakan anak dengan hal-hal yang hedon walau orang tua tersebut mampu. Sesekali untuk mengapresiasi mereka dengan memberikan hadiah permainan mungkin lebih baik.

f889f19bc2130ea9cfe7d1d02dafc447_lagu-anak-bahasa-inggris

Kebijakn Ibu saya untuk memndidik adik kembar saya agar bisa hidup bermasyarkat dengan lingkungan sekitar sangatlah tepat. Anak-anak butuh kebebasan dan kepercayaan dari orang tua namun tetap diiringi dengan pengawasan yang tepat. Walau adik saya jago dalam membuat permainan sendiri, sesekali Ibu saya tetap membelikan permainan masa kini untuk mereka sebagai motivasi bermain namun dengan cara yang tepat dan pas alias tidak berlebihan. Bermain itu perlu. Bermain itu PENTING. Bermain itu mengasyikkan. Tapi jangan main-main terhadap anak gadis orang *eh

“ALIM AZIM : Kak uwi, nangkok lauak wak nah kak, pek lah kak” hahaaha ajakan adik kembar saya jikalau saya tiba-tiba bad mood dan cemberut

Cukup berceloteh, saya ngantuuuuk >.<
Jatinangor, Pondok Zahara
00.16

Advertisements

4 responses to “nO Menye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s