aku ingat

Hallo ukhti-ukhti cantik, manis dan solehah (:

kata kata persahabatan

Aku menulis surat “cinta” ini di saat saat memorabilia kembali menghujam. Aku menulis ini dengan sepenuh cinta kepada saudari – saudariku yang berada di sana. Di saat malam, hening, sunyi membelai lembut. Rindu. Sambil memandang kerlap kerlip lampu kota, aku hanya bisa bilang Rindu. Rindu pada oase kehidupan ku yang dulu. Rindu. Mungkin kata itu yang hanya keluar di otakku jika ditanya tentang ukhuwah. Aku rindu ukhuwah kita. Aku rindu semua kegilaan kegilaan kita. Dibalik rindu kepadamu, aku juga sangat teramat rindu dengan kasih sayang ibu, aku rindu tawa adik kembar dan aku rindu nasihat abang. Aku rindu pilar-pilar kehidupan ku. Aku rindu kampung halaman.

Aku ingat.
Aku ingat momen di saat pertama kali kita merajut ukhuwah. Kata “lugu” mungkin pantas disematkan kepda kita. Gadis – gadis lugu yang mempunyai banyak mimpi. Aku ingat ketika kita berlari bersama, merajut asa, mimpi dan cita.

Ah, aku tak ingin teramat bermelankolis kali ini. Aku ingin kembali sanguinis, ketawa-ketawa bersama dengan ukhti2 tercinta. Bermain, belajar dan bermimpi.

Aku ingat.
Awal waktu kita berjumpa. Persahabatan kita memang dimulai dengan kata “benci”. Hahaha jika mengingat kembali masa-masa itu, maka aku fix akan ketawa-ketiwi sambil nyengir – nyengir tidak menentu. Aku teramat senang memiliki sahabat seperti kalian. Sahabat – sahabat yang selalu setia mendengar cerita-cerita ku. Aku ingat kalian membenciku di awal waktu.Saling benci (?) Bagaimana tidak (?) kalian menjauhiku dan menertawaiku karena ke-baru-an-ku di kelas. Ya, aku anak baru waktu itu. Anak baru dari kota pekanbaru. Aku ingat ketika kalian melihat dengan perasaan tidak suka terhadapku. Aku ingat ketika kalian mentertawakanku karena makan “karupuak kuah”berlepotan kala itu. Aku ingat ketika kalian menertawakanku karena tidak bisa berbahasa minang. Aku ingat ketika aku menuliskan gambar kalian dengan bubuhan kata yang tidak bersahabat. Kalian melihat gambar dan tulisan ku itu. Kalian marah. Marah sejadi – jadinya.

Aku ingat kata pepatah. “ Benci bisa berubah menjadi cinta”
Ya… sekarang aku mencintai kalian. Uhibbukum fillah ukhti-ukhti. Maha Besar Allah yang telah mempertemukan kita di lingkaran cinta.
Dua belas tahun kita telah menjalin persahabatan. Merangkai cerita cita bersama. Jalan – jalan ke “baruah” untuk melihat sawah. Berlarian membeli “karupuak kuah uni ena” ketika bel istrihat di bunyikan. Berjalan jauh hingga jembatan ketika pulang sekolah. Aku ingat ketika kalian mengajariku bahasa minang. Bercerita di sepanjang jalan, menceritakan masa depan, dan cita-cita kita. Aku ingat. Aku ingat ketika kita liburan ke pantai. Main ombak dan meminum sebotol teh. Aku ingat ketika kita berbaris berdekatan ketika upacara hari senin walau kita berbeda kelas. Aku ingat ketika kita jadi pengerek bendera. Ya, kita adalah langganan pengisi upacara setiap hari senin di sekolah. Aku ingat ketika kita menjadi murid handalan dan kesayangan guru olahraga. Aku ingat ketika PBB bersama. Aku ingat ketika lomba gerak jalan, aku ingat dukungan kalian ketika aku di amanahi jadi pimpinan regu pramuka dan ketua gerak jalan. Aku ingat ketika kalian mendukungku untuk menjadi ketua kelas.Aku ingat sorakkan semangat dari kalian. Aku ingat ketika kita berlomba mencapai peringkat atas di sekolah. Aku ingat ketika kalian mengucapkan selamat ketika aku meraih juara umum. Aku ingat semuanya.

Aku ingat ketika kita les bahasa inggris. Aku ingat ketika sore-sore kita pulang dari SIEC. Aku ingat ketika kita practise bahasa inggris. Aku ingat semangat kalian untuk fasih berbahasa inggris. Aku ingat gelora semangat kita.

Enam tahun kita selalu bersama-sama. Kelahi, ngambek, cemberut, cemburu, tawa, gembira semua menghiasi cerita persahabatn kita.
Aku sedih ketika kita harus berpisah di waktu SMA. Aku sedih ketika kita tidak bisa satu kampus dan satu almamater. Jalan kita memang berbeda. Mimpi kita juga berbeda, namun cita-cita kita tetap sama. Ya, cita- cita untuk selalu di ridhoi oleh sang Maha Pencipta Allah Azza Wa Jalla. Aku mencintai kalian karena Allah. Rindu berbagi cerita dengan “sarok-sarok berlian”

Persahabatn kita bagaikan pohon. Yang selalu subur untuk tumbuh. Tumbuh menjadi dewasa dan paham artinya makna kehidupan. Dan yang selalu kokoh menunggu. Menunggu cerita –cerita kehidupan kita. Aku tunggu cerita kalian. Aku tunggu kalian berkilau melengkapi bumi, mengalahkan kilauan berlian 
Maaf telah bermelo durja. Maaf sahabaaat :’)

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim)

Rindu untuk berkumpul kembali :’)
WIRITISRI
Selamat ulang tahun Sri Oktaviani, barakallah icieeessss 🙂

Jawa Barat, 22 Oktober 2013
00.05

Advertisements

2 responses to “aku ingat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s